Friday, October 5, 2018

Jam yang Mempengaruhi Perkembangan Industri Horology

Dalam dunia horology ada beberapa milestone yang bisa diangap sebagai salah satu sebab berubahnya konstelasi industry horologi dunia. Perubahan ini sebagian besar disebabkan oleh berubahnya teknologi pembuatan jam tangan dan penemuan-penemuan baru yang serta merta mempengaruhi perkembangan selanjutnya. beberapa brand berhasil mensikapi perubahan dengan cepat dan ada pula yang konsisten dengan warisan leluhur tadisional pembuatan jam secara turun temurun. Berikut adalah beberapa jam yang merubah bisnis horology .


Rolex Oyster: Desain casing yang membuat Rolex menjadi sangat terkenal
 
Merupakan cikal bakal dari legenda Rolex submariner, Rolex Oyster memimpin sebagai jam pertama di dunia yang anti air. Hans Wilsdorf sangat pandai memanfaatkan media masa dengan menampilkan headlines di surat kabar dengan memperlihatkan seorang perenang bernama Mercedes Gleize yang mampu berenang menyeberangi Selat Inggris pada Oktober 1927. Saat itu Gleitze berenang sambal mengenakan sebuah Rolex Oyster di lehernya yang dikaitkan dengan kalung. Setelah berhasil menyeberangi selat Inggris, dia membuat sebuah testimony: 

“Anda akan senang mendengar bahwa jam Rolex oyster yang saya bawa selama saya berenang terbukti sebagai jam yang tangguh dan penunjuk waktu yang akurat meskipun selama beberapa jam terpapar oleh air laut yang dingin dan juga oleh goncangan selama saya berenang.”

Rolex menampilkan satu halaman penuh berita tersebut. Meskipun kegiatan berenang tersebut bisa dikatakan tidak sukses besar (karena dilakukan dalam 2 kali), namun pemberitaan yang besar terkait ketangguhan Rolex Oyster membuat Rolex seketika langsung terkenal. Pers menyebutnya sebagai “the wonder watch that defies all the elements.”




 Seiko Astron: Produk yang hampir membuat bangkrut industri jam Swiss


Diluncurkan untuk pertama kalinya pada hari Natal tahun 1969, Seiko Astron adalah jam tangan quartz pertama yang diproduksi secara komersial, dan berdampak sangat besar terhadap industry jam Swiss secara umum. 

Kemunculan Astron membuat geger industry jam Swiss karena mereka tidak pernah terpikir bahwa sebuah negara di Asia akan membuat secara komersial sebuah jam quartz untuk pertama kalinya. Tidak ada pabrikan jam di Swiss yang tidak terdampak oleh munculnya Astron. Swiss yang mengagungkan pembuatan jam mekanikal serta merta menjadi chaos, bahkan beberapa perusahaan jam Swiss mengalami stagnan dan tidak sedikit yang mengalami kerugian besar. Industri yang mengagungkan kompleksitas mekanikal yang diturunkan selama ratusan tahun mendadak redup menghadapi serbuan jam quartz Jepang yang murah dan juga tangguh. Kejadian ini membuat industry jam Swiss mengalami krisis sejak 1970 sampai pertengahan tahun 80-an dan menyebabkan lay off besar-besaran para pekerja.





Blancpain Moonphase dan Perpetual Calendar: Jam yang bertahan dan menentang krisis quartz



Jam ini diproduksi dan diperkenalkan ke publik pada tahun 1983, pada saat krisis yang disebabkan oleh Seiko Astron masih berdampak besar. Saat itu CEO Blancpain, Jean Claude Biver, bersikukuh untuk membuat dan menjual jam ini meskipun mendapat tentangan dari banyak orang. Biver memiliki visi bahwa Blancpain sampai kapanpun tidak akan pernah membuat jam quartz dan tetap membawa semangat tradisi jam mekanikal Swiss. Desain jam dibuat seperti jam vintage dengan feature yang complicated. Kemunculan Blancpain ini menyadarkan pemain industry jam lain untuk tetap memegang semangat tradisi mekanikal yang sudah menjadi ciri utama dan tetap memproduksi jam-jam mekanikal. Tidak sampai 2 tahun sejak Blancpain ini diproduksi, industry jam Swiss perlahan mulai pulih dan berkembang pesat hingga saat ini.


 

Audemars Piguet Royal Oak: Jam yang mendefinisikan ulang jam sport

Bila berbicara mengenai desain Royal Oak, banyak orang tidak mengetahui bahwa model ini di desain oleh Gerald Genta dalam waktu 1 malam saja. Ide awal ditunjukkan kepada manajemen Audemars Piguet pada tahun 1970. Desain RO berangkat dari helm penyelam pada masa itu yang dikunci dengan menggunakan 8 baut besar agar menyatu dengan baju penyelam. Terjemahan desainnya muncul menjadi bentuk octagonal yang dilekatkan dengan 8 baut pada bezel. Saat pertama kali desain ini ditunjukkan, manajemen AP kaget dan terheran-heran melihat desain yang menurut mereka jelek, aneh dan tidak lazim, terutama pada desain 8 baut yang terlihat sangat jelas di bezel. Hal lain lagi yang tidak seperti biasanya adalah semua material casing dan rantai dibuat dari stainless steel. Karena mereka berpikir bahwa jam high end mestilah dibuat dari logam mulia. Ternyata desain ini menjadi salah satu icon dari Audemars Piguet hingga saat ini.




Omega De Ville Co-Axial: The watch that broke the stranglehold of the lever escapement

Banyak yang menyetujui bahwa penemuan teknologi co-axial escapement menjadi penemuan yang signifikan selama 200 tahun sejarah jam mekanikal. Adalah seorang George Daniel, sang penemu, lebih dari 20 tahun berusaha meyakinkan setiap pabrikan jam untuk menggunakan teknologi yang dia ciptakan. George Daniel adalah seorang penjual Kasur yang pada malam hari dia mengambil kursus watchmaking. Karea bakat dan ketekunannya akhirnya dia berhasil membuat sebuah model co-axial escapement. Pertama kali dikembangkan pada tahun 1974 dan dipatenkan pada tahun 1980. Namun sampai 1999 tidak ada pabrikan jam yang mau memakai teknologi ini. sampai akhirnya Omega menggunakan co-axial escapement ini dalam produk baru mereka. 




Swatch Watch: Jam yang menyelamatkan industry jam Swiss

Pada saat industry jam Swiss dalam masa krisis dan terancam bangkrut, Nicolas Hayek (yang kemudian menjadi komisaris Swatch Group, memiliki ide untuk membuat jam yang sangat terjangkau dan desain yang atraktif. Kemunculan Swatch langsung memikat hati penggemar jam terutama dari kalangan muda. Desain Swatch yang atraktif dan bertema seketika membuat Swatch menjadi sebuah icon budaya pop pada saat itu. Menjadi lazim ketika seseorang pada saat itu mengenakan 2 buah Swatch di tangan kiri dan kanan karena desain Swatch bisa serupa aksesoris. Swatch juga mengeluarkan beberapa model yang dibuat terbatas dan sampai saat ini Swatch adalah salah satu jam yang memiliki penggemar fanatic dan dikoleksi.




sumber:
https://www.watchuseek.com/seven-wonders-watch-world/

Sunday, June 3, 2018

PAMERAN JAM dan ARLOJI 2018

Pada tanggal 12-13 Mei kemarin, komunitas Horologi khususnya komunitas jam di Yogyakarta ARJO mencatat sebuah sejarah dengan mengadakan sebuah acara besar berskala Nasional pertama kali. Acara itu diberi nama ARLOJI KASEPUHAN: PAMERAN JAM dan ARLOJI 2018. Sebelumnya sudah ada beberapa acara gathering horologi yang sifatnya masih per komunitas saja, seperti: Seiko Diver Indonesia, Kronometrofilia, G-Shock warrior dll. Pada acara PAMERAN JAM dan ARLOJI ini banyak komunitas horologi yang berkumpul dan merasakan keriaan bersama selama 2 hari DI Yogya.

Acara berlangsung di Jogja City Mall (JCM) dengan mengambil tempat separuh atrium utama di lantai dasar. Acara kali ini dihadiri oleh 30 penggemar dan pedagang jam antik dari Jawa, Sumatra, Bali dan Sulawesi dan Kalimantan. Acara selama 2 hari tersebut fokusnya adalah pameran dan jual-beli jam tangan antik dan aksesoris terkait jam tangan. Juga diadakan lelang sebanyak 3 sesi yang melelang 12 buah jam antik.

Kata sambutan dari Arif Yulianto yang didapuk sebagai Penangung jawab acara Pemaran
Pameran dibuka dengan mendengar sambutan dari Penanggung jawab acara yaitu Arif Yulianto, ketua umum Sdr Irwan dan terakhir kata sambutan dari Dewan Kehormatan KGPH Hadiwinoto dilanjutkan dengan pemukulan Gong tanda dimulainya acara pameran. Pada kesempatan tersebut Gusti Hadi juga berkenan untuk melihat ke beberapa stand yang ada di pameran dan berbincang hangat mengenai koleksi yang dipajang dan dijual dan juga berkunjung ke booth Bank BRI sebagai sponsor utama dalam acara tersebut.

Saudara Irwan sebagai Ketua Umum kegiatan Pameran.
Pemukulan Gong oleh KGPH Hadiwinoto selaku Dewan Penasehat dari Komunitas Arloji Jogja (ARJO)
 Pada foto dibawah, Gusti Hadi berkunjung ke salah satu booth peserta pameran yang datang dari Medan, yaitu Bpk Apak, yang membawa banyak sekali jam antik dari periode tahun 60-70an.


Gusti hadi berkunjung ke booth Sponsor utama acara yaitu Bank BRI
Baru di even inilah saya baru bisa bertemu secara fisik teman-teman yang selama ini hanya saya kenal namanya di FB atau WA group, terutama yang berasal dari luar kota. Mayoritas dari teman-teman ini juga memiliki blog atau website yang menjual jam antik. Disini juga saya lihat banyak koleksi jam yang belum pernah saya lihat secara langsung dan coba di tangan. Ada ratusan jam antik yang dibawa, dipajang dan dijual dalam acara ini. Ada beberapa booth yang memang tidak menjual koleksi jam mereka dan hanya dipajang untuk dilihat dan dinikmati oleh penggemar jam lainnya.




Dari ki-ka: Dody Bali, Arif Yulianto, Yoga dan William Bali.
Sebagai salah satu panitia, saya sendiri sampai tidak sempat utuk melakukan foto-foto dari banyak item jam yang saya suka. Foto-foto dalam posting ini merupakan hasil jepretan rekan Ian dan William. Dari sekian banyak jam menarik yang ditampilkan selama pameran, saya hanya bisa mendapatkan beberapa gambarnya. Salah satu hal yang menyenangkan untuk dilihat adalah sebuah Omega Constellation black dial yang lengkap dengan box paper. Omega connie dial hitam sudah sudah dapat dan ini lengkap dengan box dan papernya! Omega ini merupakan salah satu koleksi Omega kesayangan rekan saya Wisnu dari Bekasi.


 2 buah jam berikut  merupakan salah stau jam vintage yang dibiarkan apa adanya, terutama yang Omega Sub Second sebelah kiri. Proses perubahan pada dial yag belum merata malah membuat jam itu unik dan satu-satunya yang memiliki corak khas seperti itu. Sebelah kanan adalah IWC automatic yang kemungkinan produksi akhir tahun 60-an sampai awal 70-an.


Kalau bicara jam antik, nama besar OMEGA selalu masuk dalam pusaran pembicaraan. Kali ini saya melihat 2 jenis Speedmaster yang mulai sulit untuk didapatkan dalam kondisi sebagus 2 jam dibawah. Kiri adalah Speedmaster 125 yang di klaim hanya diproduksi sebanyak 2000 buah saja. Desainnya massive dan kokoh. Sebelah kanan adalah salah satu icon dan the legend dari OMEGA, speedmaster moonwatch 861.


 Dalam pameran ini kita akan melihat banyak model jam antik yang unik dan juga kolektibel. Beberapa teman sengaja mendatangkan jam-jam tersebut dari luar Indonesia karena untuk mendapatkan model itu di sini sudah pasti sangat sulit dan mungkin saja tidak ditemukan. Dan biasanya kondisi jam dari luar, misalkan Jepang, kondisinya masih lebih bagus dan bersih daripada bila kita dapatkan di Indonesia. Mungkin ini disebabkan oleh perbadaan iklim juga. Indonesia memiliki kelembaban yang tinggi sehingga bisa mengganggu kondisi dial.


Sala satu booth milik Vinson Jakarta fokus pada jam-jam Jepang yang kualitas dan kondisinya masih bagus dan bersih. Yang ditunjukkan difoto bawah adalah sebuah King Seiko Gold capped yang cantik dan bersih.


Foto di bawah merupakan beberapa contoh seiko vintage high-end dari King Seiko dan Grand Seiko yang dibawa selama pameran.

  

Saat pameran kali ini, saya lihat ada beberapa booth yang memajang banyak SEIKO vintage. Paling banyak adalah dari seri diver dan sport chronograph. SEIKO diver vintage sempat sangat populer dan membuat harga melambung tinggi. namun kemudian mulai banyak jam sejenis yang menggunakan parts aftermarket dan ini mempengaruhi value dari SEIKO diver vintage yang masih original. Jenis SEIKO diver yang banyak dipajang adalah dari seri 6309 dan 6105.


 Indonesia kini mulai dikenal di dunia horologi International berkat seseorang yang mendedikasikan hidup dan memiliki passion dalam membuat casing jam tangan terutama seri Diver, yaitu Kang Ridwan dari Bandung (tengah berkaos merah). Kang Ridwan sudah saya kenal sejak lama saat kami membangun komunitas jam pertama di Indonesia: KRONOMETROFILIA. Banyak sudah hasil kreasinya dibeli oleh penggemar jam diluar Indonesia dan karyanya termasuk yang dikagumi dan disukai karena unik dan rapih dalam pengerjaannya. Kang Ridwan membawa beberapa contoh hasil kreasinya beserta alat pembuat casing yang biasa dia gunakan ketika berkreasi. Juga ditunjukkan video bagaimana proses mulai dari awal bahan mentah hingga menjadi siap jual.


 Berikut adalah contoh casing SEIKO diver yang dibuat dengan material Titanium grade 5. Warnanya yang abu-abu doff terlihat sangat menarik.


Casing berikutnya dibuat dari bronze yang mengambil desain dari SEIKo diver Turtle.


Salah satu spot yang saya sukai adalah kumplan jam-jam art deco yang diproduksi pada tahun 1920-1940an. Bentuknya unik dan dimensinya kecil-kecil. Beberapa masih dibuat dengan material enamel untuk dialnya dan hand painted untuk indexnya. Semua jam tersebut masih berjalan dengan baik.


Salah satu booth yang fokus memajang jam-jam koleksi adalah milik Bapak Joko Juwono. Koleksi yang dibawa lebih dari 100 buah dan semuanya dalam kondisi terawat sangat baik. Beberapa koleksinya termasuk dalam highly collectile item dan valuenya naik dengan sangat cepat.


 Salah satunya yang sempat saya pinjam adalah sebuah HEUER Autavia yang menggunakan mesin Valjoux 72 yang legendaris. Model ini value mingkat tajam setelah Tag Heuer berencana untuk membuat re-editionnya.


 OMEGA dibawah adalah salah satu dari sekian banyak jam unik yang saya sukai, sebuah OMEGA Driver yang diproduksi pada tahun 30-an. Bentuknya unik. Pertama, dialnya diputar 90 derajat sehingga posisi jam 12 ada di posisi jam 3 yang sejajar dengan posisi crown. Kedua, casingnya dari perak dan diukir sesuai pola desain yang populer pada saat itu. Ketiga, dialnya masih terbuat dari enamel dan dalam kondisi yang masih relatif utuh. Jam ini digunakan oleh para pengemudi mobil ada tahun itu, dan menggunakan jam ini dengan benar adalah dengan meletakkannya di pergelangan tangan sebelah dalam.


 Jaeger Le Coultre adalah salah satu merk favorit saya, dan kali ini saya melihat 2 buah Le Coultre yang masih sangat bagus kondisinya. Yang kiri merupakan Le Coultre memovox alarm dan kanan adalah LeCoultre solid gold. Brand Le Coultre memang tidak setinggi Jaeger LeCoultre, namun desain dan moevemntnya banyak kemiripan karena memag berada dalam satu naungan merk yang sama yaitu JLC.


 Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, pada saat pameran juga diadakan lelang. ada beberapa buah jam yang berhasil terjual jauh melebihi target harga reserved yang ditentukan oleh pelelang, yaitu sebuah Rolex 6694 gilt dial, Omega chronostop, Seiko dan Tudor. Lelang ini berhasil menarik perhatian karena dilakukan secara terbuka dan bisa diikuti oleh siapapun yang berada di dalam mall tersebut.


Dari pantauan saya selama pameran, ternyata banyak juga pangunjung pameran yang datang dari luar kota dan sengaja ke Yogya untuk melihat dan membeli jam di acara ini. Para pedagang jam asing dari luar Indonesia juga saya lihat setiap hari berada di pameran, seperti pedagang dari Pakistan, India, Filipina, Vietnam dan Thailand. Animo pengunjung cukup tinggi , dilihat dari sering padatnya pengunjung dan terutama sekali dari transaksi yang terjadi selama pameran. Untuk transaksi di booth, pembeli dipermudah dengan adanya edc bank BRI dan ATM mobile yang selalu stand by di lokasi mall.


 Saat pameran, panitia mengumpulkan rekan-rekan penyewa booth untuk mendapatkan feedback terkait penyelenggaraan. Semua mengatakan puas dengan cara tersebut dan secara bisnis juga sangat baik hasilnya. Mereka mengharapkan acara ini menjadi sebuah acara rutin tahunan dan dilakukan di Yogya. Karena secara geografis lokasi Yogya seperti di pertangahan diantara pulau-pulau dan kota di Jawa. Dan, bila event ini akan diakukan lagi tahun depan diharapkan jumlah booth yang ada ditambah dan harinya menjadi lebih lama, yaitu 3 hari. Feedback yang positif ini membuat panitia menjadi bersemangat untuk membuat acara serupa dengan lebih baik dan lebih besar di tahun depan.

See you guys next year!