Monday, June 14, 2010

OMEGA Speedsonic F300hz "The Lobster"

 
Pada era sebelum movement Quartz menjadi populer dan bahkan mendominasi jam-jam yang dibuat pada masa itu, ada jenis movement yang sempat dianggap sebagai teknologi terkini di dunia horologi, yaitu Tuning fork movement. Teknologi ini awalnya ditemukan oleh Max Hextel yang saat itu bekerja untuk Bulova dengan mengeluarkan tipe yang melegenda juga yaitu Bulova Accutron. Teknologi tuning fork sendiri merupakan movement yang dilengkapi dengan sirkuit transistor elektronik, dan karena itulah jam-jam dengan movement tuning fork sering disebut sebagai jam elektronik. Karena proses mekanisme-nya menggunakan rangkaian elektronik, maka jam ini disebut sebagai the most accurate movement pada masa itu dengan deviasi kurang dari 5 detik per tahun. karena kehebatannya ini maka beberapa merek jam besar pada masa itu membeli mesin Accutron ini untuk dipasangkan pada jam-jam mereka, termasuk Omega.
Omega membeli juga movement ini dan diaplikasikan ke beberapa seri Omega seperti Constellation, Seamaster, dan De Ville. Setelah Max Hetzel bergabung dengan Omega, dia melakukan beberapa perbaikan pada movement ini dan Omega mengikutkan movement ini dalam uji chronometer (ini tidak dilakukan oleh merek lain yang membeli movement yang sama. Omega memberikan nomor caliber kepada movement ini yaitu: 1250 yang dibuat sebanyak 261,000 buah, Cal.1260 (day-date) sebanyak 98,000 buah dan 1255 (khusus untuk Speedsonic) yang dibuat hanya 11,900 buah. Omega memproduksi jam dengan movement elektronik sejak 1973 dan dihentikan produksinya pada tahun 1980. Speedsonic dalam koleksi saya ini diproduksi tahun 1974.
 
Omega tuning fork (TF) dalam koleksi saya ini adalah Speedsonic yang menggunakan TF movt Cal.1255 dengan ditambah modul mekanikal chronograph dari Dubois Depraz. Karena adanya 2 movement dalam 1 casing maka Speedsonic seringkali disebut sebagai jam Hybrid. Modul duboiz depraz ini memiliki jarum detik di posisi angka 12. Dial jam aslinya berwarna abu-abu mengkilat dan karena proses oksidasi dan kelembaban, warnanya sudah mulai berubah secara merata. Walau warna dial berubah, semua tulisan masih jelas terlihat. Diameter casing adalah 46mm tanpa crown, sedangkan penampang dial sekitar 40-41mm, sehingga jam ini terlihat seperti cangkang binatang.

 
Salah satu hal yang membuat jam ini menjadi sangat unik adalah desain dari rantainya. Desain setiap bagian dari rantai berupa sirip-sirip yang menyerupai kulit udang Lobster karena itu Speedsonic ini seringjuga disebut sebagai "The Lobster". Menurut saya, model desain rantai seperti ini hanya dibuat sekali saja oleh Omega yaitu pada tipe Speedsonic ini. Karena desainnya yang ergonomis maka terasa nyaman saat dikenakan. Rantai seperti 'memeluk' pergelangan tangan saat dipakai. Akan menjadi sangat menyulitkan kalau kita hendak menambah satu mata rantai karena pasti akan sulit mencarinya. Sebenarnya ada 2 macam desain Speedsonic yang saya ketahui, tapi memang tipe Lobster ini yang paling jarang ditemui. Karena itu tidak heran kalau harganya jauh berbeda dengan tipe yang biasa.

Untungnya, jam ini saya dapat dengan rantai yang masih cukup panjang sehingga bisa langsung dipakai.


 
Movement masih terlihat bagus dan bersih. Gambar di bawah adalah bagian dari modul tuning fork dimana letak tuning fork bisa dilihat di posisi bawah dengan adanya 2 buah kumparan yang berhadapan. Sistem tuning fork ini membuat jam ini seolah selalu berdengung karena getaran dari 'garpu' movement yang sangat cepat. Sedangkan modul chronograph terletak dibawah modul tuning fork. Karena itu posisi antara kenop chronograph dan kenop utama tidak segaris.

Pada case back terlihat tulisan "Movement Licensed BULOVA" karena memang Omega hanya membeli movement ini dari Omega dan dikembangkan sendiri.
Menggunakan Speedsonic Lobster seperti mengenakan jam-jam ABG karena desain dan bentuk fisiknya yang unik dan besar. Kalau jam-jam ABG atau Swatch terbuat dari Plastik, speedsonic ini keseluruhannya terbuat dari steel.



No comments: