Saturday, April 19, 2014

ENICAR Sherpa Super Jet Automatic


ENICAR memiliki sebuah produk yang membawa kepopuleran merk ini khususnya pada periode akhir tahun 50-an sampai akhir 60-an. Tipe itu adalah 'Sherpa'. Nama 'Sherpa' sendiri identik dengan pemandu para pendaki gunung di Himalaya. Apakah ada kaitannya?

Pada 18 Mei 1956, Tim ekspedisi Swiss mencapai puncak Gunung Lhotse (8,516 m) di pegunungan Himalaya, yang 4 hari kemudian diikuti oleh ekspedisi ke puncak Everest (8,848m). Semua anggota ekspedisi saat itu mengenakan jam ENICAR Seapearl. Setiap anggota ekspedisi mengakui kehandalan jam ENICAR mereka dan begitu juga pendapat para Sherpa yang menyertai ekspedisi tersebut. Sayangnya, momen bersejarah itu tidak dipublikasikan dengan baik oleh manajemen ENICAR sehingga nama ENICAR tidak sepopuler ROLEX yang dikenakan oleh Sir Edmond Hillary pada ekspedisi yang sama ke Everest. Nama Sherpa akhirnya dipatenkan pada 6 November 1956. Sejak saat itu ENICAR fokus dengan mengembangkan tipe Sherpa sampai lebih dari 100 jenis yang berbeda. Dan tipe Sherpa yang paling tinggi adalah Sherpa-Graph yang menggunakan movement Valjoux 72.  

ENICAR dikenal sebagai salah satu produsen movement automatic yang handal. Banyak desain ENICAR seperti tidak mengutamakan estetika dalam desain jam. Seringkali desainnya terlihat keluar dari pakem desain pada saat itu. Untuk beberapa tipe sport seperti chronograph dan alarm, ENICAR masih menggunakan movement dari pabrikan lain: Valjoux dan A.Schild. Ketika krisis jam quartz melanda dunia horologi pada akhir tahun 60-an, ENICAR terkena dampak yang besar. Tidak sanggup menghadapi serangan jam quartz murah dari asia, akhirnya manajemen Enicar menjual perusahaan ini kepada konglomerat Hong Kong. Nama Enicar dijual namun tidak berikut movement yang sudah terlanjur diproduksi. Salah satu watchmaker dunia asal jerman Gerd R. Lang membeli semua sisa stock movement lama Enicar. Gerd R. Lang membuat jam dengan nama CHRONOSWISS. Beberapa tipe yang terkenal dari merk ini seperti tipe regulateur menggunakan basis movement dari Enicar.


Salah satu tipe Sherpa yang masuk dalam koleksi saya baru-baru ini adalah Sherpa Super Jet. Tipe ini memiliki inner rotating bezel yang menunjukkan second time zone yang dibedakan dengan 2 warna: Hitam dan kuning muda. Diameter casing adalah 40mm tanpa berikut crtown. Dimensi ini termasuk jam yang oversize pada era tahun 60-an. Meskipun usia jam ini sudah lebih dari 40 tahun, namun akurasinya masih tergolong bagus.




Wednesday, April 16, 2014

ENICAR Sherpa 300 JET GRAPH Manual winding GMT Chronograph


 Beberapa minggu lalu saya mendapatkan kiriman sebuah jam tangan antik ENICAR Sherpa GMT dari seorang rekan di Medan. Saya sebelumnya memang pernah memiliki beberapa buah jam ENICAR antik dalam koleksi saya dan semuanya adalah tipe Sherpa. Saat saya menerima jam itu, saya mulai tertarik lagi untuk mempelajari dan mencari tipe-tipe jam ENICAR yang (menurut saya) kolektibel. Dan saya langsung menetapkan tujuan utama untuk mencari 2 buah ENICAR yang banyak dicari oleh para penggemar jam antik, yaitu: tipe Sherpa Jet Graph (Chronograph) dan Super Divette (untuk jam Diver). ternyata, penantian untuk mendapatkan jam yang saya idamkan tidak lama karena salah seorang rekan baik saya memilikinya..

Sebelum saya membahas mengenai Enicar  Jet Graph ini, menarik untuk mengenal ENICAR sebagai sebuah merek jam yang unik dan digdaya pada jamanya. Bermula dari nama ENICAR yang muncul dari kebingungan pendiri merk ini yaitu Ariste Racine, untuk membuat nama baru setelah dia ditolak saat mendaftarkan nama RACINE sebagai nama merk jam yang akan dia produksi. Saat itu nama RACINE sudah ada dalam daftar patent nama merk jam yang diproduksi oleh GALLET. Karena harus segera mendaftarkan merek, maka Racine merubah nama merek jamnya menjadi ENICAR yang berasal dari kata namanya sendiri RACINE bila dieja dari belakang.


 ENICAR dikenal sebagai salah satu produsen jam yang membuat movement-nya secara inhouse khususnya untuk tipe automatic non sport. Tidak banyak inhouse calibre yang mereka produksi saat itu. Dalam era golden years sekitar tahun 50-60an, ENICAR dikenal sebagai jam yang tangguh dan akurat, dan yang lebih unik lagi adalah karena ENICAR 'berani' keluar dari pakem trend jam saat itu dengan memproduksi jam berdiameter besar, sekitar 38-40mm. Sedangkan trend jam saat itu berkisar 34-39mm. Salah satu tipe ENICAR yang selalu menjadi incaran para penggemar jam antik adalah tipe sport Sherpa yang diproduksi dalam banyak varian yang semuanya memiliki desain yang atraktif. dari semua produk Sherpa, yang paling dianggap tingggi 'kasta'nya adalah Sherpa 300 JET GRAPH.

Sherpa 300 Jet Graph pertama kali diproduksi pada tahun 1965 dan merupakan manual winding chronograph pertama yang dikombinasikan dengan fungsi penunjuk 24 hours time zone. Menggunakan rotating 24 hours bezel yang ditunjukkan dalam 2 warna: hitam dan silver. Setelah enicar memproduksi Jet Graph, pabrikan jam lain HEUER mengikuti dengan mengeluarkan Autavia GMT. Diameter JET GRAPH adalah 40mm tanpa berikut crown dan memiliki ketebalan 13mm. Salah satu desain yang saya sukai dari Jet Graph ini adalah desain lugs nya yang dibuat dalam dimensi yang besar dan dengan beberapa 'tekukan' dan desain ini semakin membuat kesan 3 dimensi nya kuat sekaligus terlihat kokoh.


 JET GRAPH tidak menggunakan desain caseback screw mount melainkan bayonet mount. Desain ini memungkinkan case back tidak perlu diputar 360 derajat tapi hanya cukup 1/4 putaran saja untuk melepasnya. Desain caseback seperti ini bukanlah patent dari ENICAR melainkan milik E. Piquerez yang merupakan produsen casing ternama pada saat itu.


 Hal yang paling menarik dari tipe ini adalah movement yang digunakan. ENICAR tidak membuat movement chronograph sendiri karena saat itu terkendala oleh patent. Dan untuk produksi Jet Graph ENICAR tidak ragu untuk memilih untuk mennggunakan salah satu manual winding movement terbaik saat itu yaitu Valjoux Cal.72. Cal 72 merupakan movement terbaik yang banyak digunakan oleh brand ternama pada saat itu seperti Rolex (daytona), Jaeger Le Coultre, Heuer, Universal dan banyak lagi. ENICAR melakukan modifikasi dengan menambahkan fungsi 24 hours time zone dalam movement ini.




Saturday, February 8, 2014

Sejarah Rolex Explorer II


 Menurut informasi yang tersedia, ROLEX memproduksi secara resmi dan me-register nama Explorer sejak tahun 1953 di Geneva. Explorer ini dikenal sebagai Explorer 1 dengan size mirip dengan Datejust yaitu 36mm.  Pada tahun 1971, mulailah sebuah perubahan besar dalam desain Rolex Explorer. Perubahan besar ini mengubah total penampilan Explorer dan kemudian disebut sebagai Explorer II. Berikut adalah sejarah singkat perjalanan Explorer II.

1655

Explorer II awalnya dibuat dengan tujuan untuk membantu para petualang bawah tanah yang sering disebut sebagai Speleologists atau Spelunkers. Dampak dari seseorang ketika berada lama dalam kondisi gelap di bawah tanah adalah orientasi waktu. Mereka tidak bisa mengetahui apakah siang atau malam. Untuk mengatasi hal itu, Explorer II yang dibuat menambahkan satu jarum tambahan dengan warna terang yang menunjukkan notasi 24 jam. Jarum orange pada 1655 tidak bisa di adjust secara manual dan murni hanya sebagai penunjuk waktu siang-malam. 1655 diproduksi sampai tahun 1982, dan selama periode itu, Rolex hanya melakukan perubahan kecil pada desain, yaitu pada penggunaan rantai Oyster Rivetted menjadi solid, penggunaan jarum detik yang lurus 'needle shape hand' (foto bawah sebelah kiri) menjadi jarum detik dengan 2 lingkaran kecil (foto bawah sebelah kanan), penggunaan font huruf dan angka yang berbeda untuk dial dan bezel, dan perubahan bentuk logo Rolex pada dial. Di kalangan kolektor Rolex, 1655 dengan jarum lurus memiliki value yang lebih besar dari pada jarum dengan lingkaran.

Ada beberapa nama yang diberikan oleh para penggemar Rolex untuk 1655 dan yang paling sering disebut sebagai 'Steve Mc Queen' Explorer, walaupun banyak yang belum meyakini benar apakah Steve Mc Queen kerap mengenakan 1655. Kolektor Italia menyebutnya sebagai 'Freccione' Explorer. Nama ini diambil karena bentuk jarum orange yang seperti anak panah pada ujungnya (Freccia artinya Anak Panah dalam bahasa Italia). Dan paling sederhana adalah dengan menyebutnya 'Orange hand' Explorer.

1655 straight hand (kiri) dan dot hand (kanan). Foto milik teman

 16550

Pada tahun 1982, Rolex mulai memproduksi seri Explorer II Ref.16550 yang sudah mengggunakan teknologi dan bahan terkini (pada saat itu).  Kali ini Rolex mulai memperkenalkan Explorer dengan dial berwarna putih, setelah sebelumnya 1655 hanya diproduksi dalam warna hitam saja. Perubahan yang paling mencolok adalah penggunaan sapphire crystal sebagai pengganti mika pada 1655. Movement baru automatic Cal.3085 mulai dipakai dalam 16550. Movement ini memiliki feature yang menjawab keinginan para Explorer yang sering bepergian dalam zona waktu yang berbeda, yaitu independently adjustable 24 hours hand. Dengan Fitur baru ini, penggunan Explorer II bisa mengetahui 2 zona waktu yang berbeda.

Ciri khas Explorer II 'Big Orange Hand' dihilangkan dan diganti dengan jarum tipis berwarna merah dengan ujung segitiga berwarna putih. jarum jam dan menit juga berubah menjadi 'Mercedes' hands yang akhirnya dipakai sampai sekarang. Angka-angka pada bezel juga dibuat dengan lebih besar dan tebal.

16550 berubah dari putih menjadi creamy dial. (foto dari internet)
 Hal yang unik dari 16550 dan yang tidak pernah diperkirakan oleh Rolex adalah penggunaan kimia pewarna pada dial yang ternyata tidak seperti yang diharapkan. Untuk 16550 dengan dial warna putih, lama kelamaan warna putihnya luntur (menghilang) dan berganti warna menjadi creamy. Sedangkan untuk 16550 dengan dial hitam, lama kelamaan dial akan terlihat seperti terdapat retakan yang acak. Fenomena ini sering disebut sebagai 'Spider dial' di kalangan penggemar Rolex. Herannya, 'kesalahan' yang dilakukan oleh Rolex ini bukan berarti membuat harga jam 16550 ini jatuh, malah sebaliknya makin diburu dan dikoleksi oleh para kolektor. Hal ini membuat harga nya semakin lama semakin meningkat jauh. melihat kecenderungan perubahan fisik jam seperti ini, Rolex menghentikan produksi 16550 pada tahun 1989 dan menggantinya dengan seri terbaru 16570. Periode waktu 7 tahun untuk memproduksi sebuah tipe merupakan waktu yang singkat dalam sejarah timeline produksi Rolex.

Black dial 16550 menjadi spider dial. (Foto dari Robert Marron.com)

 16570

Merupakan tipe Explorer II yang paling sering kita lihat sampai saat ini. 16570 mulai diproduksi tahun 1989 dengan menambahkan feature baru yang lebih canggih dari movement 3085 sebelumnya. Cal 3185 pada Rolex 16570 memungkinkan bagi pengguna untuk mengatur secara mandiri jarum jam maju-mundur tanpa menghentikan jarum detik. Secara visual tidak ada perbedaan antara 16550 dengan 16570, bedanya untuk 16570 warna putih dan hitam pada dial tidak akan berubah menjadi cream atau retak. Pada tahun 2007, 16570 menggunakan movement baru Cal.3186 yang sudah menggunakan parachrom blu hair spring.


 216570

Pada tahun 2011, Rolex melakukan sebuah evolusi desain untuk Explorer II. Saat pertama kali diperkenalkan pada Basel World 2011, penggemar jam surprise dengan desain baru Explorer 2 yang lebih besar, 'berotot' sekaligus memasukkan unsur vintage dalam desainnya. 216570 merupakan ref number untuk Explorer II yang memiliki dimensi casing 42mm. Unsur vintage dimunculkan kembali dengan hadirnya 'Big Orange hand'. material yang digunakan adalah 904 L yang merupakan level baja tertinggi dengan kualitas yang jauh lebih baik dari versi sebelumnya.



Friday, February 7, 2014

ROLEX Oyster Perpetual Date Ref.6534. Rare!


ROLEX Oyster Perpetual Date Ref.6534 merupakan tipe Date yang diproduksi sebelum Ref.1500. Perbedaan antara 6534 dan 1500 salah satunya adalah dari sisi diameter jam. 6534 memiliki diameter jam 1mm lebih kecil (34mm) dari 1500.

ROLEX 6534 ini memiliki desain dial yang menarik. Indeks bukan berbentuk kotak, melainkan berbentuk seperti anak panah yang terbuat dari gold. Indeks di posisi angka 3 dan 6 berbeda dengan indeks yang lain. Jarum jam dan menit model pedang (dauphine hands) yang berlubang ditengahnya. jarum detik menggunakan blued steel yang memang berwarna biru. Warna biru pada jarum detik akan jelas terlihat bila terkena cahaya. Warna jarum jam dan indeks sama terbuat dari gold.


ROLEX ini menggunakan rantai oyster yang tipis dengan sistem paku. Rolex oyster seperti ini sering dijumpai pada produksi Rolex tahun 50-60an. Karena bentuknya yang tipis, terasa nyaman saat dikenakan. Movement menggunakan automatic movement Cal.1035 yang mulai diproduksi dan digunakan di seri 6534. Jam ini juga diproduksi pada tahun yang sama 1957, tepatnya di quarter pertama. Movement cal.1035 sering disebut sebagai movement 'kupu-kupu' karena apabila dilihat dari bentuk rotor-nya menyerupai sayap kupu-kupu.



 Movement 1035 ini masih menggunakan Roullete date, dimana penggunaan warna tanggal dibedakan untuk tanggal genap dan ganjil. Warna merah digunakan pada tanggal dengan angka genap, sedangkan angka ganjil menggunakan warna hitam. Cal.1035 merupakan movement terakhir dari generasi 10XX dan kemudian digantikan dengan cal.1560 pada tahun 1959.



OMEGA Speedmaster TV Shape Dial Cal.1045


 Saya kembali teringat sekitar 7-8 tahun lalu saat pertama kali saya melihat jam ini. Saat itu antusiasme untuk hunting dan mencari jam antik sedang tinggi-tingginya. Awalnya saya lihat jam ini agak aneh karena desainnya yang gendut, dan seperti tidak proporsional. Hal ini mungkin disebabkan karena desain rantainya yang berbentuk balok-balok tebal dan desain casing yang kotak dan memang sepintas mirip bentuk TV tahun 70-an.

Ini adalah sebuah OMEGA Speedmaster Automatic yang memiliki ref. no. 176.0014. Omega ini keluar dari pakem desain speedmaster pada umumnya yang dominan dengan bentuk Tonneau dan bulat. Desain 176.0014 ini kotak dengan sudut melengkung yang mirip TV dan karena itu untuk memudahkannya disebut sebagai Speedy TV Shape dial.


 Keseluruhan desain jam ini sungguh terlihat berotot. Terlihat dari desain casingnya yang memiliki dimensi 43x40mm (tanpa crown). Ketebalan casing sekitar 15,7mm. Dengan dimensi seperti ini, jelas secara proporsional akan terlihat gemuk (tebal). Konstruksi casingnya kokoh dengan konstruksi 3 pieces casing: Bezel, casing dan caseback. Finishingnya merupakan kombinasi antara brushed dan polished finish dengan beveled edge pada sisi atas casing. Pada gambar diatas dan dibawah terlihat jelas beveled pada casing. Yang saya suka dari desain Speedy TV dial ini adalah desain rantainya yang solid dan kokoh. Omega menyebutnya sebagai Bar Bracelet, karena memang Speedy TV dial diproduksi dengan 2 jenis rantai: Bar dan Link Bracelet. Kelemahan dari model rantai seperti ini adalah sulitnya mencari potongan rantai tambahan karena Omega tidak banyak memproduksi rantai model seperti ini. Gambar di bawah menunjukkan tebal Bar Bracelet yang semakin menipis ke arah ujung claps.


 Sama dengan serial Speedmaster mark lainnya, caseback speedy ini juga menggunakan caseback yang bertuliskan SEAMASTER dengan logo Seamonster di bawahnya. Entah kenapa, Omega tidak membuat caseback sendiri untuk tipe ini. Di balik caseback, terdapat sebuah automatic chronograph movement yang legendaris yaitu LEMANIA 5100. Omega menggunakan movement ini dan menggantinya dengan sebutan Cal.1045. Lemania 5100 merupakan movement automatic chronograph yang complicated karena memiliki beberapa feature tambahan seperti penunjuk 24 hours, minute tracking terpisah dari sub register chronograph (jarum dengan model sayap pesawat diujungnya), day-date serta am-pm. Karena berbagai feature inilah menyebabkan setiap jam yang menggunakan LEMANIA 5100 akan lebih tebal dari chronograph lainnya.


Hal menarik lain dari jam ini adalah penggunaan warna untuk dialnya. Warna dialnya seperti abu-abu kebiruan yang terlihat berkilat bila terkena cahaya. Omega menyebutnya sebagai Sunburst/ Blinking dial. Pada kaca terdapat satuan pengukur Tachyproductometric yang menempel di kaca dari arah dalam. Speedy TV Dial diproduksi dalam 2 jenis dial yaitu: Matte black dan Sunburst/Blinking dial. Tidak banyak populasi Speedy TV dial yang beredar dan terutama lagi yang masih dalam keadaan mulus dan bersih seperti ini. Produksi speedy ini dilakukan selama kurun waktu 1974 -1977 dengan jumlah yang tidak diketahui berapa banyak.



Untuk tangan yang besar saya masih merasa nyaman mengenakan jam ini, tapi untuk orang yang tangannya kecil mungkin tidak akan nyaman karena jam ini berat 152,6 gram. Selain itu bentuk rantai yang agak 'mengangkang' tentu akan terlihat tidak menempel nyaman di pergelangan tangan.


Saturday, January 18, 2014

SEIKO Marine Master Professional Diver 300m SBDX 001


 Pertama kali saya melihat wujud fisik jam ini sekitar 5 atau 6 tahun lalu. Ketika itu, saya melihat salah seorang teman dalam komunitas KRONOMETROFILIA mengenakannya pada Get ToGether (GTG). Frankly speaking, saya jatuh cinta dengan jam ini pada saat pertama kali melihatnya. Awalnya saya mengira teman saya mengenakan salah satu jam diver buatan Swiss koleksinya. Saya langsung tahu kalau itu adalah sebuah SEIKO ketika melihat posisi crown yang ada di posisi angka 4.SEIKO Diver yang dipakai adalah sebuah SBDX001 Marine Master 300m (MM300). Saat itu saya belum punya keinginan kuat untuk memiliki sebuah MM300 karena kalau dilihat dari harganya, saya lebih suka menambahkan dananya untuk mendapatkan sebuah Grand Seiko.

Keinginan untuk memiliki sebuah MM300 baru muncul (lagi) di awal tahun ini dan secara kebetulan ada seseorang yang ingin menjualnya. Pucuk dicinta, ulam pun tiba!


 MM 300 atau SBDX001 ini sering disebut sebagai high-end diver dari Seiko selain dari Grand Seiko diver. Karena positioning-nya demikian, maka kualitas finishing, material yang digunakan dan movement dipilih secara cermat dan detail. Diameter jam ini adalah 44mm tanpa crown. Desain casing yang besar ini tidak terlihat sebesar aslinya karena ukuran bezelyang dibuat lebih besar. Dengan demikian, diameter dial akan menjadi lebih kecil. Dilihat dari fungsinya sebagai jam diver professional, MM300 dibuat dengan kokoh dan solid. Hal ini bisa dilihat dari konstruksi casing dengan tebal 14,6mm dan bobot secara keseluruhan yang lebih dari 200 gram. Bobot seberat ini diperoleh dari pemakaian solid steel pada casing (monocoque). Konsekuensinya adalah, untuk maintanance movement harus dilakukan dengan mengangkat bagian atas jam dan bukan dari case back.


Seperti halnya untuk tipe High-end lainnya, SEIKO sangat serius dalam hal estetika finishing. Casing dibuat dalam 2 jenis finishing yaitu brushed dan polished. Bila lihat foto dibawah terlihat pada bagian atas lugs dibuat dengan brushed finish. Kemudian bagian bawahnya (samping lugs) dibuat dengan polished finish sehingga terlihat cukup kontras dengan bagian atas lugs. Di bagian lebih bawahnya dibuat beveled sebelum dibuat menjorok ke dalam. Pola desain seperti ini meningkatkan kesan 3 dimensi ketika diterpa cahaya dan tentunya menjadi lebih menarik. Gerigi pada bezel dibuat lebar dengan gerigi yang tidak begitu tajam, bila dibandingkan dengan gerigi pada Rolex Submariner yang lebih tajam. Bila dilihat dari samping terlihat desain down turn dari lugs. Lebar antar lugs adalah 20mm.

Untuk antisipasi pemakaian jam diluar diver suit, SEIKO menggunakan desain claps baru yang memungkinkan pengguna untuk melakukan adjustment dengan mudah dan cepat.


 Salah satu hal yang paling menarik bagi saya adalah desain dan finishing rotating bezel. Sepintas, material bezel berkilat seperti halnya bezel yang terbuat dari ceramic. Finishing bezel dibuat berkilat dengan finishing yang rapi. Dot indeks dan jarum pada dial dibuat besar untuk mempermudah secara visual bagi pengguna ketika berada di bawah air. Jarum jam di buat dengan dimensi yang cukup besar dengan lume yang menyala dengan terang dalam keadaan kurang cahaya. Salah satu prinsip desain jam diver, yaitu kemudahan visual dan kesederhanaan, dilakukan dengan baik pada mayoritas jam Diver SEIKO.


MM300 menggunakan automatic movement Cal.8L35 yang disebut sebagai salah satu automatic movement terbaik Seiko. Movement ini menggunakan 26 jewels dan dengan power reserve selama 50 jam.